Kamis, 16 Desember 2010

16 desember 2010


Visi
Menuju Perguruan Tinggi unggulan pada tahun 2010 yang menghasilkan lulusan kompeten dibidang Sistem Informasi, Teknik Informatika dan Sistem Komputer serta memiliki daya saing yang tinggi dalam era globalisasi.
Misi
Menyelenggarakan pendidikan komputer (Sistem Informasi, Teknik Informatika dan Sistem Komputer) yang menghasilkan lulusan bermoral, terampil, dan kreatif serta memiliki daya saing tinggi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.Menyelenggarakan program-program penelitian dan pengembangan guna menghasilkan keterkaitan dan relevansi seluruh kegiatan akademis dengan kebutuhan pembangunan sosial-ekonomi dan industri Indonesia, serta mengantisipasi semakin maraknya globalisasikehidupan masyarakat.Melaksanakan dan mengembangkan program-program pengabdian kepada masyarakat melalui inovasi di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa Indonesia, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.


Mengapa Saya Memilih Perguruan Tinggi Raharja ?
Alasan Saya memilih Perguruan Tinggi Raharja karena :
STMIK Raharja adalah Perguruan Tinggi yang berkualitas di Tangerang dan sudah terakreditasi sehingga wajar saya memilihnya
Raharja mempunyai fasilitas yang memadai dan kecanggihan teknologi terkini sehingga dapat mendukung saya dalam memperoleh ilmu pengetahuan.
Karena Raharja berfokus kepada bidang yang saya minati yaitu bidang komputer sehingga dalam mengembangkan minat saya menjadi mudah.
Karena dekat dengan rumah saya, hanya 10 menit menggunakan motor.Itulah beberapa alasan kenapa Saya memilih Perguruan Tinggi Raharja.saya sangat senang menjadi pribadi raharja,selain itu raharja adalah Kampus Unggulan di Tangerang.karena kampus saya adalah Green Campus.

Rabu, 24 November 2010

TUGAS AGAMA KELAS UM110H

WAHYU DAN ILHAM
AGAMA ISLAM
MAKALAH
 WAHYU DAN ILHAM

  DISUSUN OLEH :
  •  Ahmad Syamsudin
  • Kurniyawan Pratama
  • Iman Hendyarto Saputra
Dosen :
Hasan Basriel Alcaff

STMIK RAHARJA
Jl.Jendral Sudirman No.40 Modern Cikokol-Tangerang Telp.5529692 Fax 5524742
  
WAHYU DAN ILHAM

A. MAKNA WAHYU

   Wahyu adalah pilar dan pondasi kenabian serta termasuk salah satu dari rukun agama–agama samawi. Wahyu merupakan jalur khusus dan rahasia yang menghubungkan antara Tuhan dan manusia-manusia pilihan (baca: nabi dan rasul). Tuhan “berhubungan” dengan nabi dan rasul, baik secara langsung maupun tak langsung, dengan perantaraan wahyu. Dan Tuhan menurunkan wahyu yang mengandung, pengetahuan, hukum-hukum, dan undang-undang ke dalam hati nabi dan memerintahkan kepadanya untuk menyampaikannya kepada seluruh umat manusia. Para nabi mendapatkan hakikat-hakikat dari alam gaib dengan perantaraan hubungan malakuti dan transenden yang tercipta melalui hati bukan dengan menggunakan indra-indra lahiriah, akal, pemikiran, dan silogisme logikal. Berdasarkan hubungan malakuti inilah para nabi mengenal Tuhan dan menerima tanggungjawab suci yang dibebankan kepadanya sebagai utusan Tuhan dan nabi  untuk mengarahkan umat manusia mencapai tujuan hakiki penciptaannya, yakni kebahagiaan abadi dan kesempurnaan hakiki pasca kehidupan di dunia ini.
Wahyu adalah sebuah eksistensi transendental yang berada di luar ranah dan wilayahakal pikiran manusia, karena itu manusia mustahil mengetahui esensi dan hakikat wahyu dengan perantaraan akal. Wahyu bukanlah sebuah eksistensi yang bersifat material atau berhubungan dengan alam natural sehingga manusia bisa mengetahuinya dengan menggunakan perangkat-perangkat indrawi dan alat-alat ilmu empirik.
Hakikat wahyu tidaklah bisa dideskripsikan oleh akal dan tidak bisa didefenisikan dengan apapun. Para nabi memahami hakikat wahyu dan menyaksikannya dengan keluasan dan kesucian batinnya.
Hakikat wahyu yang disaksikan langsung oleh para nabi bukan dalam bentuk huruf-huruf dan tidak bisa disampaikan kepada yang orang lain, akan tetapi kandungan wahyu yang kaya dan sarat dengan informasi dari Tuhanlah yang bisa ditransfer kepada orang lain. Ketika para nabi menyampaikan wahyu tidaklah berarti bahwa para nabi menyampaikan pengalaman batinnya di alam metafisika yang merupakan sebuah eksistensi di luar alam materi dan alam tabiat. Para pengikut dan sahabat hanyalah menyaksikan tanda-tanda bahwa nabi menerima wahyu dan mereka tidak mengalami apa yang terjadi pad nabi pada saat menerima hakikat wahyu.
Oleh karena itu, kami dengan jelas mengatakan bawa kita tidak bisa menjelaskan dan memahami hakikat wahyu dan tidak dapat  memberikan definisi yang komprehensif terhadap sebuah eksistensi transendental yang diluar jangkauan akal manusia. Dan para pembaca yang budiman sebaiknya tidak berharap demikian, akan tetapi tujuan kami adalah menjelaskan apa-apa yang akan membantu kita dalam memahami wahyu secara lahiriah dan mendekatkan pikiran kita tentang hubungan rahasia dan luar biasa ini. Inilah tujuan kami ketika mengutip dan menyandarkan perkataan kami kepada para filosof dan para urafa. Dan dengan menalaah perkataan para ilmuwan tersebut akan memberikan perspektif yang benar tentang wahyu pada kita.
Bukan berarti bahwa dengan ketidakmampuan mengetahui esensi wahyu menyebabkan pengingkaran pada wahyu, kenabian, rasul, dan pembawa wahyu itu sendiri, karena kenabian adalah masalah yang telah dibahas dan diteliti secara cermat dalam  buku-buku teologi dan filsafat serta sudah dibuktikan keberadaannya dengan mengemukakan argumentasi logikal dan rasional. Pembuktian kebenaran kenabian tidak bergantung pada pengetahuan kita tentang hakikat dan esensi wahyu.
Disamping itu, pengutusan para nabi adalah sebuah kenyataan sejarah yang tak dapat dipungkiri. Dan di sepanjang sejarah kehidupan manusia, manusia-manusia pilihan bangkit dan hadir untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia  dan memproklamirkan bahwa mereka miliki hubungan khusus dengan Tuhan. Dan mereka memiliki program dan rencana untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran dan menunjukkan jalan keselamatan dan kebahagian di dunia dan akhirat. Dengan kesaksian sejarah pula, para nabi merupakan manusia-manusia pilihan yang tidak memiliki cacat dan celah dalam kehidupannya, mereka terkenal sebagai orang yang amanah, orang shaleh, jujur, ikhlas, berakhlak baik, dan berbudi pekerti yang luhur. Di samping itu, mereka juga menunjukkan mukjizat untuk membuktikan kenabian mereka, memaparkan perintah-perintah Tuhan dengan pasti dan bijaksana, menampakkan keimanan yang kuat dan perkataan yang benar, dan mengajak manusia untuk beriman kepada Tuhan dan alam gaib. Mereka terkenal sebagai orang jujur dan amanah serta bisa dipercaya, karena itu manusia mempercayainya dan menerima ajakannya, setia, berjihad, dan bersungguh-sungguh untuk mengamalkan perintah-perintahnya.
Revolusi, evolusi, dan reformasi suci yang terjadi pada sejarah kehidupan manusia berkat bimbingan para nabi yang memiliki otentik sejarah dimana meninggalkan pengaruh yang sangat mendalam pada diri manusia. Dan tak diragukan lagi, jika gerakan para nabi di sepanjang sejarah tidak tercapai maka kondisi dunia sudah pasti tidak seperti sekarang ini, para pembaharu kemanusiaan yang mengaku sebagai nabi itu dan dengan usahanya yang tak kenal lelah tidak bisa dikatakan sebagai para penipu dan pembohong.
Nabi Muhammad saw merupakan salah satu dari wajah-wajah suci dalam sejarah kenabian, dia adalah nabi terakhir dan nabi yang paling dekat dengan kita. Sejarah mencatat bahwa sebelum beliau diutus sebagai nabi,  beliau terkenal sebagai orang  yang amanah, jujur, adil, memiliki integritas, shaleh, dan baik. Dan memiliki kesehatan jasmani dan jiwa stabil serta kehidupan sederhana, tidak pernah belajar resmi pada seorang guru atau lembaga pendidikan apapun sehingga dinamakan sebagai “ummi”.
Hingga beliau berumur 40 tahun, kondisi batinnya menjadi berubah, beliau dengan tegas mengatakan bahwa saya menyaksikan malakiat jibril As dan mendengar suaranya, dia datang atas perintah Tuhan dan membawa kabar berita, saya diangkat sebagai nabi dan diperintahkan untuk menyampaikan perintah Tuhan kepada umat manusia. Ketika kembali ke kondisi semula sebagai manusia biasa, beliau menyampaikan hukum, undang-undang, aturan-aturan yang bijak, dan ilmu pengetahuan yang tinggi dengan ibarat yang indah dan fasih sambil mengatakan bahwa kalimat dan ibarat yang disampaikannya itu adalah sebagaimana yang diwahyukan kepadanya dan diperintahkan untuk membacakannya dihadapan manusia.
Kitab al-Quran adalah mukjizatnya dan tak seorangpun yang bisa menandinginya dan mendatangkan sepertinya. Dan manusia ditantang bahwa jika kalian merasa ragu maka datangkanlah seperti al-Quran ini. “Dan jika kamu (tetap) meragukan Al-Qur’an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah (paling tidak) satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah (untuk melakukan hal itu), jika kamu orang-orang yang benar[1]. Dan dalam ayat lain,“Tidaklah mungkin Al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya dan panggillah siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”[2]. Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”[3]
Al-Quran dengan tegas memperkenalkan dirinya sebagai mukjizat nabi yang bersumber langsung dari Tuhan dan menantang para pengingkar al-Quran untuk menghadirkan seperti kita suci itu.
Nabi Muhammad saw mengumumkan kepada umat manusia bahwa al-Quran bukanlah perkataan beliau dan beliau pun tidak bisa menciptakan ayat al-Quran sesuai dengan keinginannya ataukah mengganti ayat dengan ayat yang lain, hal sebagaimana diungkapkan, “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, “Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah Al-Qur’an ini.” Katakanlah, “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut kepada siksa hari yang besar (kiamat) jika aku mendurhakai Tuhanku.” Katakanlah, “Seandainya Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya (dan aku belum pernah membawakan sebuah ayat pun). Maka apakah kamu tidak memikirkannya?”[4]“Dan apabila (ayat Al-Qur’an terlambat turun dan) kamu tidak membawa suatu ayat Al-Qur’an pun kepada mereka, mereka berkata, “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al-Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”[5]
Pada tempat lain, al-Quran dinamakan sebagai perkataan dari malaikat jibril yang diturunkan dari Tuhan, kemudian orang yang mendustakan bahwa al-Quran bersumber dari-Nya akan disiksa dengan azab yang pedih. “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar ucapan seorang rasul yang mulia, dan Al-Qur’an itu bukanlah ucapan seorang penyair; sedikit sekali kamu beriman kepadanya, dan bukan pula perkataan tukang tenung; sedikit sekali kamu sadar (dan mengambil pelajaran darinya). Al-Qur’an itu adalah wahyu yang diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian ucapan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia dengan kuat, kemudian benar-benar Kami potong urat jantungnya.”[6]
Al-Quran ialah kitab incomparable dan tak ada tandingannya yang telah diturunkan kepada Rasulullah saw secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Kandungan kitab ini berupa pengetahuan transendental yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia dan menjelaskan masalah-masalah eskatologi, kehidupan setelah mati (alam akhirat) dengan sedetail-detailnya, dan memaparkan hukum-hukum yang mencakup segala dimensi kehidupan manusia.
Kitab suci ini menjelaskan secara gamblang kehidupan para nabi  dan umat-umat sebelumnya, memberikan sebagian berita gaib, mengajak umat manusia untuk berakhlak mulia dan menjauhkan diri dari akhlak buruk, dan mengemukakan masalah ekonomi, sosial dan politik.
Al-Quran kaya dengan kandungan dan sarat dengan pengetahuan transendental yang terungkap dalam kefasihan kata, kesempurnaan kalimat, dan keindahan ibarat yang khas. Al-Quran bukan kitab syair dan prosa. Karena mempunyai makna yang terdalam, trandsenden, dan keindahan ibarat membuat para sastrawan Arab di zaman nabi terpesona dan takjub sehingga mereka merobek syair-syair kebanggaan mereka yang ditempelkan di dinding kabah.
Yang sangat mengherankan ialah bahwa ayat-ayat indah,  mempesona, dan lembut dari al-Quran terpancar dari sosok yang tidak pernah belajar membaca dan menulis. Akan tetapi, hadis-hadis dan khutbah Rasulullah saw tidak memiliki keistimewaan seperti al-Quran. Dan perkataan-perkataan beliau tidaklah berbeda jauh dengan manusia biasa.
Oleh karena itu, kita bisa katakan dengan tegas bahwa  al-Quran bukanlah perkataan Nabi Muhammad saw, melainkan “perkataan” dan kalam Tuhan yang diilhamkan ke dalam hati suci beliau lalu hadir dalam bentuk huruf dan kalimat yang kemudian dia sampaikan kepada umat manusia. Al-Quran ialah mukjizat Nabi terakhir yang abadi dan merupakan argumen terbaik bagi kenabian beliau, dengan menelaah al-Quran akan mengantarkan kita kepada Sumber Wahyu, Tuhan.

Etimologi Wahyu
Secara leksikal, wahyu memiliki makna yang beragam. Yang paling komprehensif dan sempurna dari seluruh makna tersebut adalah perpindahan pengetahuan kepada pikiran orang yang dituju secara cepat dan rahasia sedemikian sehingga tersembunyi dan tidak nampak bagi semua orang.
Ar-Raghib menuliskan, “Wahyu adalah sebuah petunjuk yang sangat cepat. Wahyu terkadang dengan perkataan simbolik, terkadang dalam bentuk suara tanpa susunan, terkadang dengan isyarah sebagian anggota badan, dan terkadang dengan tulisan.”[7]
Menurut Ibnu Atsir, “Kata wahyu dalam hadis sering dimaknakan sebagai tulisan, isyarat, risalah, ilham dan bisikan.”[8]
Dari kedua pemaknaan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa wahyu memiliki enam makna sebagai berikut:
1.    Bisikan;
2.    Suara yang tak terdengar;
3.    Isyarat;
4.    Tulisan;
5.    Risalah dan utusan;
6.    Ilham.
Setiap makna di atas mengandung dua unsur: kecepatan dalam pemahaman dan rahasia.
Syekh Mufid menyatakan, “Makna utama wahyu ialah bisikan, lalu secara mutlak diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menjelaskan dan memahamankan sebuah obyek kepada lawan bicara dengan cepat dan tersembunyi.”[9]
Allamah Thaba-thabai berkata, “Wahyu ialah suatu isyarat dan petunjuk yang cepat.”[10]Dan penulis tafsir Ruhul al-Bayan mengatakan, “Makna inti wahyu ialah isyarat yang cepat, sesuatu dikatakan sebagai wahyu karena terlaksana dengan cepat, wahyu adalah pemahaman itu sendiri, memahamkan itu sendiri, dan yang dipahami itu sendiri.”[11]
Dalam makna leksikal wahyu tidak ditekankan secara khusus subjek pemberi wahyu, baik itu Tuhan, malaikat, manusa, jin, dan setan. Demikian pula, subjek penerima wahyu tidak ditegaskan secara khusus, siapa yang menerimanya dan apa yang diwahyukan.
B. CARA TURUNYA WAHYU SECARA UMUM
قال الامام البخارى رحمه الله حدثنا عبد الله بن يوسف قال اخبرنا مالك عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة ام المؤمنين رضى الله عنها ان الحارث بن هشام رضى الله عنه سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف يأتيك الوحى ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم احيانا يأتينى مثل صلصلة الجرس وهو اشده علي فيفصم عنى وقد وعيت عنه ما قال واحيانا يتمثل لى الملك رجلا فيطلمنى فاعى ما يقول. قالت عائشة رضى الله عنها ولقد رأيته ينزل عليه الوحى فى اليوم الشديد البرد فيفصم عنه وان جبينه لبتفصد عرقا

Imam al-Bukhari berkata: kami diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf berkata: diriwayatkan oleh Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah RA bahwa al-Harits bin Hisyam bertanya kepada rasulullah SAW : Bagaimana datangnya wahyu kepadamu? Rasulullah SAW menjawab: kadang kala wahyu datang seperti bunyi kelenengan dan itu yang terberat bagiku, dan begitu selesai aku telah menyadari apa yang disampaikannya. Dan kadang kala malaikat jibril datang berupa seorang laki-laki yang berbicara kepadaku dan aku mengerti apa yang dikatakannya. ‘Aisyah berkata: sesungguhnya aku pernah melihat rasulullah SAW menerima wahyu pada suatu hari yang sangat dingin dan begitu selesai aku melihat dahinya penuh keringat.

Keterangan Rawi: 
1. Abdulah bin Yusuf
2. Malik bin Annas
3. Hisyam bin Urwah
4. Urwah bin AZ-zubair
5. Aisyah R.A
6. AL-HARITS bin Hisyam

Keterangan Teks
Hadits ini mengandung fakta yang patut menjadi pusat perhatian kita yaitu:

a.Wahyu:
 
Dalam segi pilologi wahyu adalah suatu pemberutahuan secara halus, dengan cara lisan, isyarat, sugesti, dan sebagainya.
Sedangkan wahyu dari segi istilah adalah kalamullah yang diturunkan kepada rasulNya, dengan cara menengar langsung kalamullah [sebagaimana terjadi pada nabi Musa AS], atau berupa berita yang disampaikan melalui perantara malaikat [Jibril ], atau berupa intisari langsung disampaikan ke dalam hati, dan seterusnya.
Perlu diingat bahwa yang bertanya disini adalah al-Harits bin Hisyam yang masuk islam pada Fathu Mekkah yaitu tahun ke-7 H. dimana pada saat itu orang-orang sudah terbiasa dengan pengertian wahyu dengan cara yang disampaikan oleh malaikat Jibril, karena itu, pertanyaan al-Harits menyangkut wahyu macam ini hal ini dapat dilihat dari jawaban rasulullah SAW yang menerangkan datangnya wahyu dengan cara yang disampaikan oleh malaikat kepadanya, yaitu berupa seorang laki-laki yang berbicara kepadanya.

b. “Shalshalatil Jaras”:
 
Shalshalatil Jaras adalah keleneng, loceng yang berbunyi kuat, keroncengan, suara bell yang kerincing, karena di Mekkah saat itu tidak ada gereja, oleh sebab itu kita tidak dapat mengartikannya sebagai bunyi lonceng gereja, meskipun orang arab di utara seperti di syam dan yaman sangat mengenal hal itu. Akan tetapi kita hanya dapat mengatakan bahwa bunyi tersebut mirip-mirip dengan apa yang diterangkan diatas.
Rasulullah member keterangan bahwa cara itu adalah cara yang paling berat, sebab untuk memahami perkataan ditengah bisingan kerincing dan bunyi lonceng adalah hal yang sukar dan memerlukan konsentrasi tinggi, meskipun effeknya lebih mantap dan lebih kuat.terbukti dengan keterangan rasulullah SAW bahwa dengan selesainya wahyu maka beliaupun telah mengerti apa yang telah disampaikan oleh malaikat.

c. Malaikat Jibril berupa laki-laki:
 
Raulullah SAW ketika menjawab pertanyaan al-Harits mengatakan bahwa kadang kala malaikat jibril datang berupa seorang laki-laki yang berbicara kepadanya dan beliau mengerti apa yang disampaikan.
Adapun pertanyaan yang sering terlontar adalah bagaimana malaikat bisa berubah menjadi manusia, atau bagaimana makhluk halus yang tidak terlihat dapat berubah dan menjadi manusia terlihat? Menurut hemat kami hal ini bukanlah masalah yang besar, bahkan hal ini adalah hal yang kecil dan tiada artinya dimata Yang Maha Pencipta dan Maha Berkuasa, Allah SWT bila menginginkan sesuatu maka hanyalah memerintahkannya [Kun] dengan seketika apa yang diinginkan itu terjadi [Fayakun] Subhanallah…
Patut diingat bahwa jawaban rasulullah SAW itupula mambantah pendapat golongan Athies dan Aphilosophist yang mengingkari adanya malaikat.
Dan bila ditinjau dari segi ilmu pengetahuan, dapat kita jumpai bahwa para sahabat tidak segan-segan untuk bertanya kepada rasulullah SAW tentang apa-apa yang tidak mereka fahami walaupun yang mereka tanyakan mengenai hal-hal abstract dan sulit difahami dan diterima oleh otak mereka, akan tetapi keimanan yang mereka miliki menjadikan jawaban rasulullah SAW sebagai penguat dan pendukung.


C. CARA TURUNYA WAHYU KEPADA RASULULLAH SAW

Tahap Pertama, Al-Qur’an berada di Lauh Mahfuzh, sebagaimana firman Allah:

“padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Q.S. Al-Buruuj: 20-22)


Ketika Al-Qur’an berada di Lauh Mahfuzh tidak diketahui bagaimana keadaannya, kecuali Allah yang mengetahuinya, karena waktu itu Al-Qur’an berada di alam ghaib, kemudian Allah menampakkan atau menurunkannya ke Baitul ‘Izzah di langit bumi. Secara umum, demikian itu menunjukkan adanya Lauh Mahfuzh, yaitu yang merekam segala qadha dan takdir Allah SWT, segala sesuatu yang sudah, sedang, atau yang akan terjadi di alam semesta ini. Demikian ini merupakan bukti nyata akan mengagungkan kehendak dan kebijaksanaan Allah SWT yang Maha Kuasa.

 Jika keberadaan Al-Qur’an di Lauh Mahfuzh itu merupakan Qadha (ketentuan) dari Allah SWT, maka ketika itu Al-Qur’an adanya persis sama dengan keadaannya sekarang. Namun demikian hakekatnya tidak dapat diketahui, kecuali oleh seorang Nabi yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya. Dan segala sesuatu yang terjadi di bumi ini telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh sebagaimana firman Allah :
 “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.S. Al Hadiid: 22)

 Tahap Kedua, Al-Qur’an dari Lauh Mahfuzh diturunkan ke langit bumi (Baitul ‘Izzah)

 Berdasarkan kepada beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan Hadits berkah yang dinamakan malam Al-Qadar (Lailatul Qadar) dalam bulan suci Ramadhan. Sebagaimana firman Allah :
 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.”(Q.S Al-Qadr: 1)

 Dan firman Allah :
 “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Q.S. Al Baqarah: 185)

 Dan firman Allah :
 “sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Q.S. Ad-Dukhaan: 3)

Tiga ayat tersebut di atas menegaskan bahwa Al-Qur’an, diturunkan pada suatu malam bulan Ramadhan yang dinamakna malam Lailatul Qadar yang penuh berkah. Demikian juga berdasarkan beberapa riwayat sebagai berikut :
  “Riwayat dari Ibn Abbas ra. berkata : Al-Qur'an dipisahkan dari Adz Dzikir lalu Al-Qur'an itu diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia, lalu Jibril mulai menurunkannya kepada Nabi.”

 Dan hadis riwayat Ibnu Abbas :
 “Riwayat dari Ibnu Abbas berkata : Al-Qur'an diturunkan sekaligus langit bumi (Bait Al-Izzah) berada di Mawaqi’a Al-Nujum (tempat bintang-bintang) dan kemudian Allah menurukan kepada Rasul-Nya dengan berangsur-angsur.”

Dan hadits riwayat Imam Thabrani :  
“Riwayat dari Ibnu Abbas ra. berkata : Al-Qur'an diturunkan pada malam Al-Qadar pada bulan Ramadhan di langit bumi sekaligus kemudian diturunkan secara berangsur-angsur.”


Ketiga riwayat tersebut dijelaskan di dalam Al-Iqam bahwa ketiganya adalah sahih sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Suyuthy riwayat dari Ibn Abbas, dimana dia ditanya oleh Athiyah bin Aswad dia berkata : “Dalam hatiku terdapat keraguan tentang firman Allah dalam surah Al -  baqarah ayat 185 :
“ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…….”

 dan firman Allah dalam surah Al – Qadr ayat 1:
 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”

Sedangkan Al-Qur’an ada yang diturunkan pada bulan Syawal, Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, Safar dan bulan Rabi’ul Awwal dan Rabi’ul Akhir. Ibnu Abbas menjawab bahwa Al-Qur’an itu diturunkan pada bulan Ramadhan malam Lailatul Qadar secara sekaligus yang kemudian diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur di sepanjang bulan dan hari.
Yang dimaksud dengan nujum (bertahap) adalah diturunkan sedikit demi sedikit dan terpisah-pisah, sebagiannya menjelaskan bagian yang lain sesuai dengan fungsi dan kedudukannya.

 Al-Suyuthy mengemukakan bahwa Al-Qurthuby telah menukilkan hikayat Ijma’ bahwa turunnya Al-Qur’an secara sekaligus adalah dari Lauh Al-Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit pertama.
 Barangkali hikmah dari penurunan ini adalah untuk menyatakan keagungan Al-Qur’an dan kebesaran bagi orang yang diturunkannya dengan cara memberitahukan kepada penghuni langit yang tujuh bahwa kitab yang paling terakhir yang disampaikan kepada Rasul penutup dari umat pilihan sungguh telah diambang pintu dan niscaya akan segera diturunkan kepadanya.
 As-Suyuthy berpendapat andaikata tidak ada hikmah Ilahiyah yang menyatakan turunnya kepada umat secara bertahap sesuai dengan keadaan niscaya akan sampai ke muka bumi secara sekaligus sebagaimana halnya kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Tetapi karena Allah SWT membedakan antara Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, maka Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap, turun secara sekaligus kemudian diturunkan secara berangsur sebagai penghormatan terhadap orang yang akan menerimanya.


Tahap Ketiga : Al-Qur’an diturunkan dari Baitul-‘Izzah kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari dengan cara sebagai berikut : 
a.  Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi SAW tidak ada melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu (wahyu) sudah ada dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam qalbuku.”
 Firman Allah SWT :
 “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”(Q.S. Asy Syuuraa : 51).

b.  Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.

c.  Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit : “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa.”

d.  Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan point b, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al-Qur’an :
Artinya : “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.” (Q.S. An-Najm: 13-14)

 Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari, tentunya mengandung hikmah. Adapun  hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur itu ialah :

a. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat ‘Aisyah ra.

b.  Diantara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al-Qur’an diturunkan sekaligus. (Ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh)

c.  Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.

d.  Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa  Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surah Al-Furqaan: 32 :
“. . . . mengapakah Al-Qur'an tidak diturunkan kepadanya sekaligus . . . . ?” Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri :
“ . . . . Demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu . . . . “

e.Di antara ayat-ayat yang ada merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas ra. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al-Qur’an diturunkan sekaligus.
Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al-Qur’an itu dibagi atas dua golongan:

a.  Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah atau sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyyah

b.  Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.
Ayat-ayat Makkiyyah terdiri dari 86 surah sedang ayat-ayat Madaniyyah terdiri atas 28 surah. Dengan demikian jumlah surah dalam Al-Qur’an adalah sebanyak 114 surah, yang diawali dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Naas.

Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah :

a.  Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek, sedang ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang; surah Madaniyyah ayat-ayatnya berjumlah 1.456, sedang surah Makkiyyah jumlah ayat-ayatnya 4.780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali surah Mumtahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang juz 29 ialah Makkiyyah kecuali surah Ad-Dahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surah Al Anfaal dan surah Asy Syu’araa masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makkiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.

b.  Dalam surah-surah Madaniyyah terdapat perkataan “ya ayyuhalladzina aamanu” dan sedikit sekali terdapat perkataan “yaa ayyuhannaas”, sedang dalam surah-surah Makkiyyah adalah sebaliknya.

 c.  Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti, sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama dan lain-lain.

Selain Al-Qur’an, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, seperti :
  
a.  Al Kitaab atau Kitaabullah : merupakan sinonim dari perkataan Al-Qur’an sebagaimana tersebut dalam surah Al Baqarah ayat 2 :
 "Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
 Dan surah Al An’aam 114 :
 “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.”

  
b.  Al-Furqaan : “Al-Furqaan” artinya “Pembeda” ialah yang membedakna yang benar dan yang batil, sebagai tersebut dalam surah Al-Furqaan ayat 1 :
“Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hamba-Nya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam.”
c.  Adz-Dzikir artinya “Peringatan”, sebagaimana yang tersebut dalam surah Al Hijr ayat 9 :
 “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan “Adz-Dzikir” dan sesungguhnya Kamilah penjaganya.”




D.MAKNA ILHAM SECARA BAHASA DAN ISTILAH
Dalam logat kecil Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Poerwadarminta ilham diartikan sebagai ” bisikan (petunjuk) yang datang dalam hati”.
Istilah ilham sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya bisikan atau inspirasi.
Mehdi Khorasani dan A.F.B. Beines-Heweit dalam buku Islam, The Rational Religion merumuskan pengertian ilham sebagi berikut ” Istilah bahasa Arab untuk ’inspirasi’ ialah ilham, dan hendakalh diingat bahwa ilham dalam bahasa arab boleh juga berarti ’naluri hewan’ maupu ’inpirasi'.



E. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA WAHYU DAN ILHAM
Persamaan wahyu dengan ilham:

1. Keduanya sama-sama diterima oleh manusia.

2. Keduanya sama-sama menimbulkan pemahaman dalam batin.

3. Keduanya sama-sama menimbulkan keyakinan

4. Keduanya tidak diberikan pada makhluk binatang

5. Keduanya sama-sama diberikan demi kemaslahatan

6. Keduanya sama-sama merupakan pemberian Allah SWT

Perbedaan wahyu dengan ilham: 

1. wahyu datangnya melalui kehadiran malaikat sedangkan ilham melalui penghunjaman langsung oleh allah kepada yang di kehendakinya

2. wahyu diterima oleh manusia pilihan allah yang mengemban tugas kenabian atau kerosulan ,sedang ilham dapat di terima oleh siapapun, baik pada waktu pintu kenabian belum tertutup maupun setelahnya.

3. wahyu diturunkan dengan tujuan untuk kemaslahatan seluruh umat manusia atau umat tertentu, sedangkan ilham hanya untuk kemaslahatan yang menerimanya dan tidak di bebani kewajiban untuk manyampaikan pada orang lain.

4. wahyu tidak dapat diminta kepada Allah agar di turunkan pada waktu tertentu ,sedangkan ilham menurut sebagian ulama dapat dim inta kepada Allah melalui cara membersihkan diri dan memprbanyak taqorub pada Allah

5. wahyu pintunya telah tertutup, bersamaan tugas kenabian yang di emban nabi Muhammad SAW berakhir, sedangkan ilham pintuinya masih terbuka selama masih ada manusia dan berlaku sepanjang masa.



Senin, 04 Oktober 2010

TUGAS

nah untuk melengkapi tugas pengantar menagemant informatika kan suru bikin blog dan harus masukin lagu di dalem blog gua ini y udah dech gua bikin
padahal gua bingung mau masukin lagu apa ni ehmmm lagu apa ya
coba dah gua cari cari dulu dech
:ngacir
ni dah gua kasih lagunya JB aja dah
haha karna gua suka ma dia







Justin Biber - One Time

FILM YANG DI TUNGGU TUNGGU

nah sekarang saya akan mengapload trailer vidio kesukaan saya SAW
ni dah di kasih yang terbaru SAW VII
haha
selamat menikmati ya agan agan







nah vidionya segitu aja dah kalo mau tau lebih jelas ntr tonton aja film nya 3D loch keluarnya tanggal berapa ya ehmmm pokoknya si dirilisnya si 22 oktober 2010 katanya si
ni kalo mau jelasnya
Saw VII Sinopsis Film SAW 7 Terbaru 2010. Kelanjutan sekuel SAW movie trailer terbaru SAW 7 rilis Oktober 2010 dan hadir di bioskop Desember 2010. SAW VII film yang paling di tunggu, film hollywood terbaru 2010 yang menghadirkan ketegangan dan teka-teki ini cukup menghibur dengan enam sekuel yang menegangkan.
Film SAW 7 Terbaru 2010

Saw VII : Sinopsis Film SAW Terbaru 2010

Sinopsis Film SAW Terbaru 2010 “Saw VII” :

Merebaknya pertempuran mematikan selama warisan brutal Jigsaw, sebuah kelompok mengumpulkan korban dari Jigsaw untuk mencari dukungan dari self-help guru Bobby Dagen (Sean Patrick Flanery), seorang pria misterius yang mempunya rencana rahasia gelap melancarkan teror baru di dunia.

Starring:
- Ben Barnes
- Georgie Henley
- William Moseley
- Will Poulter
- Anna Popplewell

Sutradara: Michael Apted
Produksi: 20th Century Fox
Genre: Sekuel 3D | Action | Adventure | Fantasy Anak-Anak | Keluarga
Rilis: 22 October 2010 (USA)
Tayang di bioskop: 10 Desember 2010

Penasaran dengan sekuel Saw VII sinopsis film SAW 7 terbaru 2010 ini, ditunggu kehadirannya di bioskop 10 Desember 2010 mendatang, saksikan juga film Resident Evil : Afterlife 3D untuk hiburan akhir tahun bareng keluarga, temen ato kekasih dah.
mantabh kan

Sabtu, 02 Oktober 2010

PERKENALAN PACAR

oke sekarang saatnya memperkenalkan pacar saya :)
wkwkw
mumpung tadi abis jalan ma dia y kan ada foto baru nah mantabh kan kalo langsung di masuk in ke blog ini (pamer banget) kayaknya
oke ni dah di kasih
wah ko miring?
hahaha maklum masih belum ngerti ni main blog masih pemula
caranya gimana ya biar kaga miring gini?
upload lagi ah
wah miring lagi 2 foto aja dah kalo gini mah yang di upload
wkwkw

Selasa, 28 September 2010

TENGAH MALEM SENDIRI MENDOWNLOAD FILM FILM ;)

huhuhuh malem malem sepi tak ada siapa pun yang beraktifitas di warnet ssc net gua mending download dah dari pada kaga jelas sendiri an ketakutan sebenernya si hhi :)
mendownload di
http://cinema3satu.blogspot.com/   


tengah malem gini mau pada tau gak gua download film apa hayo hayo
dan gua download film KUNTILANAK KAMAR MAYAT
http://cinema3satu.blogspot.com/2010/08/kuntilanak-kamar-mayat.html

dan untuk memberi suasana tidak horor gua mendonwload film PIJAT ATAS PIJAT BAWAH film yang sempat menghebohkan perfilm an indonesia akibat ulah saiful jamil yang katanya sih nge GREPE kiki fatmala
hahaha
http://cinema3satu.blogspot.com/2010/08/pijat-atas-pijat-bawah.html
dan akhirnya sudah ada umar soap yang datang ke ssc jadi saya tidak ketakutan lagi :ngeri nya sudah hilang hahahaha
mantabh


dan akhirnya film selesai juga di download pukul 3.03 dini hari hahaha mantabh dah tinggal gua liat aja dah tuh film nya mudah mudah an aja kaga mengecwakan udah download lama lama sendiri an ktakutan kalo ampe jelek mah mending langsung di apus aja dah tuh..hahahaha
malem ini luamayan berkesan dah..hahaha tidur dah gua dadah